SUARA GARDA, Cirebon
Kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Kabupaten Cirebon meningkat. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, peningkatan tahun ini hingga lebih dari 300 kasus yang terjangkit penyakit tersebut.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon, tercatat di 2016 hingga semester III atau sampai Sepetember terdapat sebanyak 1/572 kasus DBD dengan jumlah yang meninggal dunia 16 orang. Sedangkan di tahun 2015, total keseluruhan dari Januari-Desember terdapat 1.247 kasus dengan jumlah yang meninggal dunia sebanyak 42 orang.
Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit pada Dinkes Kabupaten Cirebon, Nanang Ruhyana mengakui, jumlah kasus DBD di wilayahnya tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut dia, meningkatnya angka kasus DBD tahun sekarang lebih dimungkinkan karena siklus lima tahunan.
“Untuk menekan upaya angka kasus DBD di Kabupaten Cirebon, kita melakukan kegiatan satu rumah satu jumantik atau juru pemantau jentik dengan membentuk duta pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Sebagai sampel kita juga telah menaruh ratusan kader di Kecamatan Depok yang dianggap paling tinggi dalam kasus DBD-nya,” ujar Nanang, Senin (5/12/2016).
Diakui Nanang, dalam membentuk PSN tersebut, pihaknya telah melibatkan banyak kader posyandu di setiap kecamatan di Kabupaten Cirebon. Namun, lanjutnya, yang sudah berjalan baru di Kecamatan Panguragan, Kapetakan dan Kecamatan Depok, serta satu desa, yakni Waruroyom.
“Di daerah mana pun tentunya sulit untuk memberantas DBD. Namun paling tidak, kita dapat meminimalisasi dengan cara 3M, yakni menutup, mengubur, dan menguras tempat penampungan air. Jadi pada intinya, kita semua harus bisa mengubah pola hidup yang kurang baik dengan pola hidup bersih dan sehat atau PHBS,” ungkap Nanang.
Sementara itu, Kasi Pengawasan Penyakit pada Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit di Dinkes Kabupaten Cirebon, Dedi Supriyatnataris mengakui, wilayahnya paling kompleks digandrungi berbagai penyakit dibandingkan kota/kabupaten tetangga. Pasalnya, kata dia, karakter orang Cirebon memiliki etos kerja yang tinggi.
Di samping itu, saat ini Cirebon sebagai daerah transit. Sehingga, menurutnya, ada penyakit atau virus yang berasal dari luar Kabupaten Cirebon masuk didata Dinas Kesehatan. Banyaknya warga Cirebon yang meratau ke luar daerah bahkan keluar Pulau Jawa juga menjadi faktor utamanya.
Kasus malaria
“Saat mereka kembali ke kampung halamannya dalam keadaan sakit, maka penyakit yang dialami warga Cirebon itu menjadi penanganan kita. Yang terpantau oleh kita, virus yang masuk dari luar kota itu merupakan penyakit malaria. Berdasarkan data di triwulan ke tiga atau September 2016, kami menemukan delapan kasus malaria yang ada di Kabupaten Cirebon,” ujar Dedi.
Menurutnya, penyakit malaria berasal dari virus vasivarum yang nyamuknya jenis Anopleles. Berbeda dengan virus DBD yang disebabkan oleh jenis nyamuk Aedes aegypti. Perbedaanya, kata Dedi, untuk penyakit malaria tidak bisa menular, sedangkan DBD bisa menular.
“Penyakit malaria yang disebabkan nyamuk Anopleles di Cirebon tidak bisa berkembang biak karena berbeda iklim. Biasanya nyamuk ini berkembang di air payau atau hutan bakau. Tapi, untuk DBD hampir di semua daerah dapat berkembang biak, di tempat yang cuacanya tidak menentu, seperti panas, kemudian hujan,” ujar Dedi.
Ia mengimbau agar masyarakat hati-hati dengan penyakit DBD. Sebab, nyamuk tersebut berkembang biak di tempat-tempat lembab. Bahkan, telur nyamuk Aedes aegypti ini meski dalam keadaan musim panas berkepanjangan tidak terkena air sedikit pun, tetap hidup selama satu tahun.
“Jadi pada saat musim hujan tiba, telur tersebut bisa tumbuh dan berkembang lagi menjadi nyamuk yang berbahaya. Kami belum bisa memberantas DBD di wilayah kita ini, sebab berkembang biaknya nyamuk ini tergantung dari PHBS di lingkungan sekitar. Kemudian, virus ini mudah menyarang bagi mereka yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah,” ujarnya.
Dedi mengungkapkan, jenis penyakit paling kompleks di wilayah Kabupaten Cirebon sepanjang tahun 2016 ini ada empat, yakni, DBD, malaria, campak dan difteri. Ke empat penyakit ini tersebar secara merata di wilayahnya.
Berdasarkan data terakhir sampai September 2016, ada 240 kasus campak yang tersebar di 14 desa, seperti Desa Kalisapu, Pasindangan, Mertapada Wetan, Cibogo, Balerante, Kalisari, Japurabakti, Megu, Slangit, Sitiwinangun, Bakunglor, Bodesari, Beber dan Munjul.
Sedangkan untuk penyakit difteri, Dinkes Kabupaten Cirebon menemukan ada 16 kasus dengan nol kematian, Malaria ada delapan kasus, Filariasis atau penyakit kaki gajah terdapat satu kasus, Leptospirosis atau infeksi bakteri hewan ada satu kasus dengan nol kematian.(KC-ol)

0 komentar :
Posting Komentar
Komentar Pembaca