Obyek Wisata Situ Sangiang

Situ Sangiang

SUARA GARDA, Majalengka
      Obyek  wisata Situ Sangiang, Kecamatan Banjaran berada di Desa Sangiang Kecamatan Banjaran yang berjarak kurang lebih 27 Km dari ibu kota Kabupaten Majalengka.
      Akses menuju Situ Sangiang cukup baik dengan jalanan beraspal hingga tiba di lokasi. Jika anda berminat mengunjungi Situ Sangiang disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi karena Dari Jalan Raya Provinsi Tepatnya di Blok Wates Desa Girimulya dimana Gapura selamat Datang berada dari sini tidak ada angkutan umum , yang ada hanya ojek. Jadi jika anda membawa keluarga sebaiknya ya bawa mobil sendiri biar nyaman.
      Situ Sangiang merupakan salah satu objek wisata alam yang berada di Majalengka yang mengandalkan sumber mata air tanah dan curah hujan sebagai sumber air utamanya. Situ Sangiang memiliki luas total mencapai 26,4 hektar. Situ ini juga termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai yang terkenal dengan legenda Nini Pelet-nya.
      Keindahan panorama pegunungan menyisakan keindahan alam, akan memanjakan anda dengan udara yang masih segar dan lingkungan yang asri. Dari Gapura selamat datang di Blok Wates Girimulya sampai Situ Sangiang anda akan dimanjakan dengan keindahan hamparan bukit yang di penuhi dengan pertanian yang menggunakan sistem teraseringnya.
      Sebenarnya Situ ini merupakan objek wisata alam dan tempat ziarah. Banyak para pendatang yang berkunjung kesini dengan tujuan untuk berziarah. Untuk masuk ke lokasi situ terdapat beberapa gerbang. Di tiap pintu gerbang, ada kotak amal yang bisa diisi suka rela oleh pengunjung. Biasanya diperuntukkan bagi para juru kunci. Di sebelah kiri jalan setapak menuju situ, terdapat makam leluhur terdahulu seperti Makam Sunan Parung dengan seorang juru kunci.
      Di pelataran saat memasuki Situ Sangiang anda akan merasakan aura mistis di jalan setapak tertulis peringatan berupa larangan untuk memetik atau mengambil bagian dari pohon besar, jangan masuk ke sembarangan tempat tanpa seizin/didampingi kuncen, dan juga ada pohon Nunuk yang tidak boleh diambil kulit pohonnya .
      Didalam Situ ada sebuah papan pengumuman bahwa pengunjung dilarang berenang, membuang sampah sembarangan, memancing, menyalakan api unggun (bagi mereka yang camping tentunya), ataupun mencorat-coret segala fasilitas yang ada. Kondisi yang cukup aneh memang, mengingat warga setempat sendiri tak berani untuk mengambil ikan dari dalam situ sehingga tak heran kalau ikan-ikan yang hidup disini bisa sampai ukuran terbesarnya.
      Beberapa tumbuhan yang ada disini antara lain pohon jati, gempol, bambu, pisang, gulma maupun rumput teki dan beberapa tanaman budidaya seperti tembakau dan mentimun.
      Situ Sangiang adalah legenda, Situ yang diyakini sebagai tempat hilangnya atau tilemnya Sunan Talaga manggung dan Keratonnya ketika dikhianati menantunya Patih Palembang Gunung kira – kira abad ke 15. Keberadaan ikan lele yang sekarang sudah mulai langka, menurut kepercayaan adalah merupakan jelmaan para prajurit dan pengawal kerajaan.
      Keberadaan ikan tanpa daging yang hidup beberapa tahun kebelakang masih sering kita dengar, sebagai sebuah keajaiban. Pemandangan disini indah, sejuk terlebih spesies ikan di telaga sangiang yaitu Ikan Lele, Ikan Mas, dan Ikan Nila. Ikan disini tidak boleh dimakan apalagi ikan lelenya karena itu bukan ikan biasa melainkan ikan jelmaan para prajurit Kerajaan.
      Menurut sejarah Situ Sangiang berbentuk Kewali (wajan), Dan fakta yang lebih menarik lagi air di Situ Sangiang ini kalau musim hujan airnya akan surut sedangkan di musim kemarau kebalikannya pasti airnya akan melimpah.
      Beberapa kejadian tersebut sering dijadikan “tetendon” atau siloka yang bakal terjadi, baik yang mempunyai dampak scope lokal ataupun nasional, misalnya tentang ketinggian air.
      “Debit air di Situ Sangiang suka dijadikan “tanda” datangnya dua musim yang berbeda, yaitu musim kemarau dan musim penghujan, biasanya menjelang musim kemarau tiba, ketinggian air akan bertambah bahkan sampai masuk menjangkau bangunan tembok, anjungan yang berada di tepi Situ, sementara pada musim penghujan tiba, volume air justru berkurang alias surut.  Walau secara ilmiah belum  dibuktikan kebenarannya. Begitupun “rumput ilat” yang menutup hampir sebagian Situ, dan sering dijadikan tanda terjadinya sebuah peristiwa” .(***)

Share on Google Plus

Tentang Unknown

SKU Suara Garda Berdiri Atas Dasar Keprihatinan Sekumpulan Generasi Muda Terhadap Ketidak Adilan, Pelaku Koruptor Serta Bertekad Menjadi Corong Bagi Masyarakat

0 komentar :

Posting Komentar

Komentar Pembaca

Baca Juga