![]() |
| Salman Faqih |
Oleh: Salman faqih
Hadirnya Mega Proyek Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kabupaten Majalengka harus menjadi perhatian yang sangat khusus bagi seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya dan terlebih lagi bagi warga tuan rumah tempat dimana dibangunnya Mega Proyek tersebut yakni warga pribumi Kota Angin atau Bumi Sindang Kasih Majalengka Jawa Barat..
Banyak sekali dampak yang akan ditimbulkan dari pembangunan BIJB mulai dari kabar angin surga serta berbagai kekhawatiran masyarakat Majalenngka khususnya, Saya tidak akan membahas berbagai dampak yang akan ditimbulkan kelak pasca pembangunan disini , mungkin nanti akan ada yang lebih peduli dari saya tentang ini dengan mengadakan berbagai seminar tentang dampak positif negatifnya pasca pembangnan BIJB.
Disini akan Saya bahas hanya sekelumit saja dari dampak negatif pembangunan mega proyek BIJB, kenapa Saya menyoroti dari satu sisi saja yakni dampak negatifnya saja, pasalnya masalah yang akan saya kemukakan ini lahir dari rasa kekhawatiran Saya sebagai warga pribumi, kenapa demikian ..?? mari kita diskusikan bersama dan Saya akan ajak anda untuk bersama-sama mencari solusi dari dampak negatif itu.
Salah satu akibat terbesar dampak negatif pembangunan Mega Proyek BIJB Kertajati Saya akan kupas sedikit saja sesuai dengan judul tulisan diatas, pada hidup dan kehidupan manusia serta masyarakat, sesuai dengan slogan kabupaten Majalengka yang Religius dikhawatirkan dengan hadirnya bandara budaya barat akan sangat mudah dan mempunyai akses yang sangat leluasa masuk kepada kehidupan warga Majalengka yang religius ini, dan akhirnya tumbuh sikap yang tidak peduli lagi pada agama [TUHAN] suatu kondisi yang mereka sebut (kaum agamawan-Red) sebagai Dekadensi Moral.
Dekadensi berasal dari kata dekaden [keadaan merosot dan mundur] moral atau akhlak. Dengan demikian, dekadensi moral merupakan atau bermakna sikon moral yang merosot [jatuh] atau sementara mengalami [dalam keadaan] mundur atapun kemunduran; kemunduran dan kemorosatan yang terus menerus [sengaja atapun tidak sengaja] terjadi serta sulit untuk diangkat atau diarahkan menjadi seperti keadaan semula atau sebelumnnya.Di samping ketidak pedulian pada agama, sikon sosia-kultural masyarakat yang buruk; motivasi agar memperoleh kepuasan melalui banyak [adanya] harta benda; serta berbagai faktor dan kejahatan lainnya, mempunyai andil besar pada dekadensi moral masyarakat dibanyak tempat dan pada berbagai bangsa. Karena paduan sikon yang buruk dan upaya mencapai semua keinginan hati, biasa membangun motivasi untuk memenuhinya dengan berbagai cara. Jika upaya pemenuhan itu tidak tercapai dengan hal-hal wajar, normal, baik dan benar, maka akan beralih melalui pelanggaran hukum, norma, etika, dan seterusnya. Dan ketika seseorang memasuki peralihan tersebut, maka ia telah terjerumus ke dalam dekadensi moral, Dampak tersebut kini sudah mulai menampakkan dirinya, mulai banyak berdiri pabrik-pabrik dikawasan industri yang sudah diatur melalui RT-RW Pemda Majalengka, secara otomatis hadir pula budaya-budaya luar yang sangat bertentangan dengan adat dan kearifan budaya lokal serta bertentangan dengan norma agama, salah satu dari sekian banyak kasus-kasus pelecehan seksual, pemerkosaan, dan yang paling mengkhawatirkan lagi seks bebas di kosan-kosan, yang lebih ngerinya lagi para pelakunya diduga adalah para cukong pabrik PT. Wintai asal negeri Taiwan, yang berlokasi di wilayah kecamatan Sumberjaya, dan yang menjadi korban tentunya adalah para Buruh Wanita pribumi, lantas bagaimana sikap para penegak hukum di Majalengka,,?? Kenapa mereka sepertinya diam dan membisu, oh...mungkin para cukong pabrik berduit asal Taiwan itu sudah memberikan sesajen komplit ..?? ketika ada yang mencoba mengungkap masalah ini, eh..malah orang tersebut dijerumuskan dan berurusan dengan hukum,, inilah PR kita saat ini dan generasi masa yang akan datang.
Saya lanjutkan lagi pembahasan Dekadensi moral, bukan lingkaran kekuatan ataupun lingkungan yangmembentuk manusia agar bertindak negatif serta menabrak nilai-nilai standar kebaikan hidup dan kehidupan. Tetapi, sifat dan sikap negatif manusia lah yangmenciptakan atau memperlihatkan dekadensi moral.Pada sikon tersebut, manusia telah menciptakan ketidak teraturan dengan cara mematahkan rambu-rambu moral dan teguran suci suara hatinya, sehingga berdampak pada kerusakan sistem sosial-kultural dan hukum serta norma-norma,dan lain sebagainya yang berlaku dalam komunitas masyarakat. Akibatnya, hampirsemua sistem dalam komunitas tersebut menjadi rusak dan mengalami degradasi serta dekadensi.Dan dalam sikon yang rusak tersebut, orang-orang beriteraksi di dalamnya,karena berbagai kepentingan, dipaksa dan terpaksa untuk mengikuti atau ikutterjerumus pada arus kerusakan. Mereka, secara bersama ataupun sendiri-sendiri,akan bersikap dan berperilaku yang sama; sama-sama memelihara kerusakan,pelanggaran norma, peraturan, dan undang-undang, serta ketidakteraturan lainnya agar dapat mencapai keuntungan lalu mampu memenuhi semua keinginan hatinya.
Realitas hidup dan kehidupan manusia yang mencerminkan dekadensi moral dapat terlihat pada kata dan perilakunya sehari-hari. Dekadensi moral dapat dan mudah terjadi pada orang-orang tertentu, manusia secara individu, kelompok atau komunitas masyarakat, kumpulan atau pun institusi sosial, pemeritah, maupun keagamaan. Hal-hal itu, tercermin dengan adanya ketidak disiplin, pelanggaran HAM, KKN, berbagai tindak manipulasi, penyalah gunaan kekuasaan dan jabatan,perselingkuhan, pelacuran, perampokan, pembunuhan, kriminalitas, serta berbagai kejahatan dan penyimpangan lainnya. Dekadensi moral ada pada masyarakat maju dan berpendidikan di perkotaan;namun bisa muncul pula pada masyarakat yang belum maju di pedesaan. Terjadi pada lingkungan rakyat biasa; ada juga pada tataran birokrat, politisi, pemegang kekuasaan, pemangku jabatan struktural maupun fungsional, bahkan keagamaan.Hal tersebut, juga bermakna bahwa setiap orang [dalam jabatan dan fungsional apapun] berpeluang terjerumus ke dalam sikon dekadensi moral. Dengan itu, dapat dipahami bahwa tidak sedikit tokoh-tokoh terkenal ataupun pemimpin yang mempunyai tampilan diri ganda, hal ini juga terjadi di pemerintahan kabupaten Majalengka mulai dari para pejabat rendahan hingga para pejabat teras, yang sebetulnya merupakan suatu kemunafikan.
Pada satu sisi, ia adalah sosok idola yang bersih, ramah-tamah, baik hati,suku menolong, dan lain sebagainya. Namun, di sisi lain, ia mempunyai sikap serta tindakan dan perilaku moral yang jauh dari kejujuran, kesetiaan dan ketaatan kepada TUHAN, ia penuh dengan kemunafikan, dan lain-lain. Manusia berwajah ganda seperti itu, ada di mana-mana; mereka menderita penyakit moral yang menyerang seluruh ekssitensi hidup dan kehidupannya, serta mudah menjangkiti orang lain, hal ini harus mulai kita fikirkan mulai dari sekarang.***

0 komentar :
Posting Komentar
Komentar Pembaca