Tikus-Tikus Berdasi

         Mungkin bagi sebagian orang ada yang belum tahu bahkan baru mendengar istilah “Tikus-Tikus Berdasi”. Istilah ini bukanlah binatang tikus yang memakai dasi di lehernya, tetapi itu adalah julukan buat para koruptor. Koruptor? Ya, koruptor. Mungkin pembaca mengidentikkan koruptor dengan wakil rakyat. Bisa jadi pembaca terlalu sering mendengar berita korupsi kalau yang berkorupsi itu adalah wakil rakyat, sehingga pembaca mengidentikkan seperti itu. Sebetulnya tindakan korupsi tidak hanya dilakukan oleh wakil rakyat saja, tetapi coba lihat di sekitar kita, mungkin pembaca belum menyadarinya. 
        Sebagai contoh, seorang siswa meminta uang untuk membayar spp kepada orangtuanya lebih dari yang seharusnya. Tindakan seperti itu juga dinamakan tindakan korupsi, namun itu dalam lingkup keluarga atau pribadi. Nah, apa sih yang dimaksud dengan korupsi? . Korupsi adalah tindakan yang tidak bermoral yang dapat merugikan keuangan negara. Tindakan korupsi bermacam-macam diantaranya adalah suap-menyuap, gratifikasi, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan penggelapan dalam jabatan.
         Kenapa di negara kita ini banyak sekali kasus korupsi yang bermunculan?. Ya tentunya semua itu ada faktor penyebabnya. Faktor penyebabnya adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal itu faktor yang datang dari dalam diri koruptor sendiri, diantaranya adalah sifat tamak manusia, moral yang kurang kuat menghadapi godaan, gaya hidup konsumtif, dan malas bekerja. Sedangkan faktor eksternal itu faktor yang datang dari luar diri koruptor itu, diantaranya adalah faktor politik, hukum, ekonomi, dan organisasi.
         Mungkin dibenak pembaca timbul banyak pertanyaan, kenapa sih wakil rakyat melakukan tindakan tak bermoral itu, sedangkan hidup mereka saja sudah bergelimang harta. Ya mungkin saja mereka salah dalam mengartikan kekayaan mereka sendiri. Coba saja kita bandingkan dua hal ini, “Prostitusi vz Korupsi”. Bisnis prostitusi ini dikelola oleh mucikari atau germo. Banyak orang menganggap bisnis ini sebagai bisnis esek-esek, bisnis lendir, mafia selangkangan (maaf). Bisnis prostitusi di Indonesia yang sudah terkenal adalah “Dolly” yang terletak di Jawa Timur tepatnya di Surabaya. 
        Orang yang bekerja di bisnis tersebut memang dipandang sangatlah hina, tak bermoral, dan tak berakhlak. Tetapi tentunya para pekerja seks komersial (PSK) tersebut mempunyai alasan mengapa mereka memutuskan untuk masuk kedalam bisnis tersebut. Seperti yang pernah saya dengar di suatu acara berita tv, bahwa mereka memutuskan untuk masuk ke prostitusi tersebut karena sulitnya mendapat pekerjaan sementara mereka harus makan atau memenuhi kebutuhan hidupnya. Tetapi lihatlah para wakil rakyat yang tidak bisa menjaga kepercayaan yang diberi dari rakyatnya. Mereka terlihat sangatlah berwibawa, bijaksana, berpenampilan oke dengan jas dan dasinya, dengan mobil mewahnya, tetapi sebetulnya mereka adalah koruptor. 
         Nah sekarang bandingkan, lebih hina mana antara Prostitusi atau Korupsi. Memang kedua hal tersebut sangat menyimpang dari kaidah dan agama. Mungkin lebih hina korupsi, karena para pebisnis prostitusi bertujuan untuk mencari sesuap nasi istilahnya, dan mereka pun yang bekerja d prostitusi tersebut adalah mereka dengan kalangan ekonomi lemah. Sedangkan yang melakukan tindak korupsi adalah mereka kalangan ekonomi atas atau istilahnya sudah bergelimang harta.
          Mungkin adanya prostitusi ini adalah salah satu dampak dari adanya korupsi. Berbicara mengenai dampak korupsi, banyak sekali dampak yang timbul akibat adanya korupsi, diantaranya adalah lesunya pertumbuhan ekonomi dan investasi, pengentasan kemiskinan berjalan lambat, meningkatnya angka kriminalitas, tidak efektifnya peraturan dan perundang-undangan, munculnya kepemimpinan korup, hilangnya kepercayaan rakyat terhadap lembaga negara, menguatnya sisi kekerasan dalam masyarakat,menurunnya kualitas lingkungan dan kualitas hidup, dsb. 
         Maraknya kasus korupsi di Indonesia membuat para musisi tanah air kritis dengan adanya kasus tersebut. Para musisi tersebut mendengar keluh kesah rakyat sekitar dan mereka menyampaikan keluh kesah tersebut salah satunya dengan menciptakan lagu yang isinya mungkin menyindir para koruptor dengan maksud agar tidak melakukan korupsi dan mereka juga memperhatikan kondisi masyarakatnya. Salah satu musisi tanah air tersebut adalah Sang Legendaris kita Iwan Fals. 
         Ia menciptakan lagu yang berjudul Tikus-tikus Kantor yang didalamnya terdapat lirik seperti ini “tikus tahu sang kucing lapar kasih roti, jalanpun lancar” maksudnya adalah kucing itu aparat penegak hukum sedangkan tikus adalah koruptor, koruptor yang menyuap aparat hukum untuk melancarkan rencana korupsinya. Dan juga lagu yang diciptakan oleh band legendaris tanah air “slank”. Slank menciptakan lagu yang berjudul Seperti Para Koruptor yang liriknya “hidup bermewah-mewah punya segalanya tapi sengsara, seperti para koruptor” maksudnya adalah iya koruptor yang hidup dengan bergelimang harta punya segalanya tetapi hidup mereka tidak tenang karena harta yang mereka dapat adalah hasil dari korupsi. 
         Kita sebagai generasi penerus bangsa, kita memang harus kritis terhadap semua kasus yang ada di Indonesia, terutama kasus korupsi, karena kasus tersebut sudah membudidaya di negara kita ini. Tentunya banyak sekali upaya yang harus dilakukan untuk mencegah korupsi, mungkin dengan menciptakan lagu seperti legendaris tersebut dapat menyadarkan diri para koruptor tersebut. 
        Upaya lain yang dapat dilakukan adalah membentuk lembaga anti korupsi seperti KPK, pencegahan korupsi di sektor publik seperti mewajibkan pejabat publik untuk melaporkan jumlah kekayaan yang dimiliki, pencegahan sosial dan pemberdayaan masyarakat seperti memberikan hak kepada masyarakat untuk mendapatkan akses terhadap informasi, pengembangan dan pembuatan berbagai instrumen hukum yang mendukung pencegahan dan pemberantasan korupsi seperti Undang-Undang Tindak Pidana Money Laundering, monitoring dan evaluasi seperti mengawasi jalannya lembaga hukum, kerjasama internasional seperti kerjasama dengan negara lain ataupun dengan International NGOs.
         Masih sangat banyak upaya-upaya lain yang dapat dilakukan untuk memberantas korupsi tersebut. Ayolah kita para generasi penerus bangsa untuk ikut membantu memberantas korupsi dan jangan sampai kita terjerumus dalam kasus tersebut. “Say No to Corruptie,”

Share on Google Plus

Tentang Unknown

SKU Suara Garda Berdiri Atas Dasar Keprihatinan Sekumpulan Generasi Muda Terhadap Ketidak Adilan, Pelaku Koruptor Serta Bertekad Menjadi Corong Bagi Masyarakat

0 komentar :

Posting Komentar

Komentar Pembaca

Baca Juga