Tempat Pemberangkatan Haji Itu Kini Menakutkan


SUARA GARDA, Cirebon
        Ketika berada di lampu merah Gunungsari, Jalan Tuparev, pandangan akan tertuju pada reklame dan baliho di tepi trotoar. Namun bangunan tua yang masih berdiri di tengah Kota Cirebon yang sedang berkembang ini di depannya masih tegak gerbang besi kusam bertuliskan “Penginapan Beringin”. Ya, pemandangan Hotel Beringin begitu kontras dengan hotel-hotel yang kini banyak berdiri di Kota Cirebon dengan segala kemewahan dan fasilitasnya.
        Hotel Beringin saat ini mungkin tak patut dinamakan hotel. Dilihat dari temboknya yang berwarna hijau kusam menandakan bertahun-tahun tanpa renovasi dan perawatan. Lantainya juga menghitam dan lembab. Alang-alang dan tanaman liar tumbuh subur merambat di sela-sela dinding dan fondasi. Halaman bertanah basah pun ditumbuhi rerumputan. Jendela dan pintu yang terbuat dari kayu terlihat lapuk. Dinding yang ditutup tripleks juga banyak yang mengelupas.
        Plafon di samping hotel pun ambruk sebagian. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Bahkan pemandangan tersebut membuat bulu kuduk berdiri bagi yang melewatinya.
“Kadang kalau menunggu lampu merah sering menengok iklan-iklan di spanduk dan baliho. Belakangnya itu hotel ya? Kok angker banget kelihatannya? Seperti bukan hotel, sekarang tempatnya sangat menakutkan. Merusak pemandangan, bikin ngeri yang melihatnya,” tutur salah seorang mahasiswa salah satu universitas swasta di Kabupaten Cirebon, Nurul Firdha Hafizah (21 tahun), kemarin.
        Menurut warga Kecamatan Kejaksan, Aisyah (80 tahun) dulu Hotel Beringin menjadi salah satu hotel yang ramai dikunjungi. “Sebab dulu hotel dan penginapan sangat jarang. Apalagi Hotel Beringin berada di tengah kota, jadi strategis untuk menginap. Ditambah dulu dekat dengan terminal Gunungsari. Baru terminal dipindah, hotel-hotel yang lebih modern mulai tumbuh. Hotel Beringin jadi sepi dan kemudian ditutup,” ujarnya.
         Sementara itu, sejarawan Cirebon, Mustakim Asteja menuturkan, tak ada dokumentasi tentang Hotel Beringin. Namun bangunan tersebut memang bergaya tahun 1950-an. “Dulu di Gunungsari ada terminal yang sekarang dibangun GTC. Terminal sejak 1956 dipindah ke Gunungsari yang sebelumnya di Jalan Karanggetas. Untuk itu Hotel Beringin menjadi penginapan strategis bagi para penumpang yang hilir mudik. Sebab jaraknya sangat dekat. Dulu ramai dengan orang, sekarang mungkin ramai dihuni makhluk lain,” paparnya.
         Menurut Mustakim, Hotel Beringin memang terbilang senior dibanding hotel lain. “Dibanding dekorasi dan bangunannya hotel di Cirebon mengalami perkembangan. Dulu belum banyak penginapan jadi menginap di Hotel Beringin menjadi sesuatu yang mewah. Makin ke sini makin modern. Namun Hotel Beringin tetap bertahan dengan bangunannya sampai masuk tahun 2000-an. Saking banyaknya hotel dan penginapan yang lebih modern dan fasilitasnya lebih. Hotel Beringin semakin sepi dan akhirnya ditutup,” terangnya.
         Mustakim mengimbau kepada pemerintah untuk segera mengambil tindakan untuk mengubah fungsi Hotel Beringin menjadi bermanfaat. “Sebaiknya jangan dibiarkan mangkrak dan tidak terurus. Lihatnya seram dan angker. Apalagi letaknya berada di gerbang kota. Lebih baik direnovasi menjadi hotel baru, pertokoan, atau yang lainnya,” katanya.
         Hotel Beringin kini masih menanti dalam kesunyian di tengah keramaian kota untuk segera direnovasi. Penantian tersebut berlangsung beberapa tahun lamanya. Mungkin bangunan tersebut masih tetap tegak berdiri atau runtuh perlahan dibiarkan tanpa disentuh oleh tangan manusia untuk kembali bersinar di jantung kota.
         Sementara itu, berdasarkan riwayatnya, Hotel Beringin juga sempat menjadi tempat pemberangkatan jemaah haji se-Wilayah III Cirebon. Sebelum diberangkatkan ke Jakarta, para tamu Allah ini bermalam di hotel ini. Lambat laut, asrama haji ini kemudian pindah di kawasan Jalan Cipto Mangunkusumo.
         Tak jelas, siapa pemilik hotel tersebut. Padahal, bagi kalangan orang tua dulu, Hotel Beringin memiliki sejarah panjang. Selain sebagai tempat penginapan, juga sebagai tempat pemberangkatan jemaah haji.(KC-ol)

Share on Google Plus

Tentang Unknown

SKU Suara Garda Berdiri Atas Dasar Keprihatinan Sekumpulan Generasi Muda Terhadap Ketidak Adilan, Pelaku Koruptor Serta Bertekad Menjadi Corong Bagi Masyarakat

0 komentar :

Posting Komentar

Komentar Pembaca

Baca Juga