SUARA GARDA, Majalengka
Sedikitnya enam petani asal desa Sukamulya kecamatan Kertajati Majalengka ditahan aparat keamanan terkait dengan upaya penolakan mereka terhadap upaya pengukuran lahan untuk kepentingan mega proyek bandara Internasional Jawabarat (BIJB) di Desa Sukamulya.
Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Yusri Yunus mengatakan pihaknya mengamankan para petani terkait dengan senjata tajam yang dibawa dalam aksi penolakan pengukuran lahan di desa tersebut.
“Enam orang diamankan karena membawa senjata tajam, ketapel untuk melukai polisi. Kami memberi peringatan dan mengusir dengan gas air mata,” kata Yusri ketika dikonfirmasi para Awak Media pada Kamis (17/11).
Upaya pengukuran lahan sendiri berlangsung sekitar pukul 12.30 WIB dan masih berlangsung hingga sore hari. Desa Sukamulya terletak di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka memiliki luas sekitar 735 hektare. Kawasan itu menjadi salah satu area yang akan digunakan untuk lahan BIJB sekitar 1.800 hektare.
Yusri mengatakan dua kompi Brimob masih ditugaskan di wilayah tersebut. Dia juga menegaskan pengukuran lahan hari ini terkait dengan lahan seluas 12 hektare yang telah dibebaskan sebelumnya.
Bandara internasional itu akan dikelola PT BIJB, satu BUMD yang dibentuk pada 2013 lalu. Tak hanya bandara, perusahaan itu juga akan membuat Aerocity yang diperkirakan dibangun di atas lahan 3.200 hektare.
Belasan Petani Terluka
Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), organisasi yang mendampingi petani Majalengka, mencatat nama-nama enam petani ditahan terkait dengan penolakan pengukuran lahan hari ini. Mereka adalah Carsiman; Darni; Junen; Sunardi; Tarjo; dan Zaenuddin.
Untung Saputra, Kepala Departemen Penguatan Organisasi Rakyat KPA, menyatakan selain ditangkap, ada pula sedikitnya 12 warga yang terluka karena ikut menolak pengukuran lahan itu. Mereka adalah Sahir; Raman; Usep; Aji; Ita; Nano; Jajuli; Gugun; Warso; Ovan; Didi; dan Aef.
“Polisi masih bertahan di lokasi, kemungkinan akan mendirikan tenda sampai selesai pengukuran,” kata Untung yang berada di Desa Sukamulya.
Sekitar 1.500 personel gabungan mulai memukul mundur dan menembakkan gas air mata ke ratusan petani Desa Sukamulya, Kabupaten Majalengka pada hari ini terkait dengan upaya pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB).
Ribuan personel gabungan itu berasal dari Polda Jawa Barat, Polres Majalengka, TNI dan Satpol PP, diketahui ikut mengawal proses pengukuran lahan yang akan digunakan untuk pembangunan BIJB. Petani Desa Sukamulya sendiri diketahui menolak upaya pembangunan bandara internasional tersebut.
LBH Kertajati, Ada Yang Berbeda Dari Harga Penetapan Awal
Menurut Ketua LBH (lembaga bantuan hukum) Bandung, Arief Yogiawan saat dikonfirmasi mengenai pendampingan terhadap warga Sukamulya, Kertajati Majalengka, menyatakan bahwa ada yang berbeda dari harga penetapan awal, sehingga membuat warga menolak pengukuran.
“Warga yang menolak ini masih ada silang pendapat dengan pemerintah, sehingga warga merasa dirugikan dengan hal ini,” jelas Arief, kamis (17/11).
Arief menambahkan, bahwa LBH mendampingi agar ada keadilan bagi warga yang lahannya diambil dalam proyek bandara internasional ini.
”Pemprov Jabar ini kan tersandera deadline agar segera diselesaikan, warga setempat tidak dilibatkan juga dari proses pengukuran awal dan ini kejadian sudah ketiga kalinya,” papar Arief.
Pihak LBH Bandung sendiri akan melaporkan hal ini kepada pemerintah pusat. Agar segera diselesaikan.“Kami mendampingi warga intinya untuk mendukung proyek nasional ini, bahkan kami berharap adanya komunikasi yang baik dari pemda kabupaten dan provinsi. Karena selama ini kami nilai berjalan sendiri-sendiri,”jelasnya.(Beni)

0 komentar :
Posting Komentar
Komentar Pembaca